Taman Jiwa

Cerpen oleh Ari Martana

“Jadi, jangan pernah melakukan fitnah kepada siapapun, ingat jangan pernah melakukan itu!”

suara lantang guru PPKN yang sekarang telah berubah menjadi PKn, memecahkan keheningan kelas siang itu. Teman-teman terkejut, lamunan mereka buyar dan mencoba untuk melihat waras ke arah pak guru PKn yang terkenal dengan kaca matanya. Aku adalah salah satu dari sekian banyak siswa yang sering dibuatnya terkejut dan menggigil.

Pak PKn menatap dengan sinis menyelidik ke dalam mata teman-temanku satu persatu. Kaca mata kesayangannya dibiarkan menggelantung di bawah mata untuk membebaskan pandangannya kepada kami. Kedua tangan menyilang di balik pinggangnya.

“Jangan kalian kira saya tidak tahu kelakukan kalian. Dari tadi saya lihat kalian hanya tidur dan menghayal, apalagi kamu!” suara keras Pak Mayos alias pak kaca mata alias pak OK membuat temanku bergidik.

“Ini adalah contoh keanehan anak-anak jaman skarang!” Pak Mayos menatap seisi kelas dengan alis mengernyit.

“Mau jadi apa kalian? Kalau cara kalian menghargai guru seperti ini, jawab!” satu buah meja bergeser dari tempatnya terkena tendangan maut Pak Mayos, membuat seorang teman kehilangan pangkuannya di meja dan terguling.

Semua bergidik, aku bergidik, bibir-bibir temanku memutih karena kering. Pak Mayos memang terkenal dengan syok terapi yang diberikannya secara spontan dan di luar nalar. Bulan lalu ia pernah membanting papan tulis karena ada temanku yang sembunyi-sembunyi menerima telepon di bawah meja. Dua bulan yang lalu aku masih ingat sepatu pantopel miliknya terbang di atas kepala kami karena tendangan yang diarahkaannya pada bangku meleset keras. Jejak sepatu itu masih terpahat jelas di tembok belakang kelas sampai sekarang.

Dengan sangat perlahan ia mulai menatap kami, sangat dekat. Hidungnya yang hitam seakan ingin masuk ke hidung kami, matanya adalah elang yang sedang kelaparan dan kami adalah kelinci-kelinci.

“Minggu lalu di kelas saya kalian berani mencontek terang-terangan di depan mata saya, tiga hari yang lalu kalian asik melukis di atas meja dengan stipo, sekarang kalian berani berulah lagi!” kembali Pak Mayos memecahkan telinga kami dengan intonasi tingginya.

Minggu yang lalu Bondan temanku yang baru mengawali karir menconteknya harus gagal di putaran pertama. Pak Mayos dengan kacamata saktinya mengetahui kelakuan Bondan dan merobek pekerjaannya berkali kali menjadi sangat kecil dan dilemparkan ke atas, tepat di atas tubuh temanku Bondan. Potongan ulangan itu turun seperti salju dan terlihat wajah putih pucat di antara celah-celah kertas itu. Pak Mayos menghukum Bondan berjalan jongkok di lorong sekolah dan harus mengucapkan beberapa kata

“Saya tidak akan pernah mencontek lagi selama-lamanya, saya kapok”

Bondan ditatap puluhan pasang mata di jendela kelas sepanjang lorong. Ia menangis.

Tiga hari yang lalu Ucok menjadi korban kedua bulan ini. Stipo yang ia gunakan untuk menggambar di atas bangkunya diambil Pak Mayos dan dilemparkannya ke luar melewati atap sekolah dan melewati kebun belakang masuk ke selokan dan hanyut. Ucok memutih, ia harus menggambar di atas kertas sepanjang 20 meter yang dibuat oleh Pak Mayos khusus untuk Ucok. Sialnya, ia harus menggambar di lapangan basket ditemani oleh matahari di atas kepalanya. Ucok terbakar.

Kelas kami adalah kelas yang sangat ditakuti oleh semua guru di sekolah. Seorang guru baru pernah menangis dan berlari keluar kelas sambil mengusap air matanya. Ia meninggalkan semua barang-barangnya di atas meja guru dan tidak pernah diambil. Sampai sekarang barang-barang ibu guru muda itu masih ada di laci-laci meja. Pernah juga kami mesti menggotong Pak Muklis guru PKn kami yang sudah tua dan biasa kami panggil kakek karena pingsan di dalam kelas setelah memarahi kami. Beruntung Pak Muklis hanya kecapean, nyawanya tertolong dan itu adalah terakhir kalinya pak muklis mengajar di kelas ini.

Semua kesenangan berakhir ketika Pak Mayos datang ke sekolah ini dan langsung ditunjuk menjadi wali kelas kami tiga bulan yang lalu. Pertama kali masuk kelas, kami sudah harus mengepel lantai selama setengah hari sampai seluruh bekas permen karet yang melekat di lantai bersih. Pak Mayos juga menyuruh kami menandatangani kontrak belajar, hak dan kewajiban kami tertera jelas di atas selembar kertas dan kami hanya menandatangani saja.

“Kamu!” Pak Mayos menunjukku dan menyadarkanku dari lamunan

“Ari, saya tahu kamu menghayal dari tadi!” dengan suara halus dan meninggi ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Ke depan!” sambil menunjuk papan tulis napasnya menerpa wajahku dengan sangat keras menggoyangkan alis.

Tanpa berkata-kata aku menuju ke depan dan satu persatu temanku yang dicurigai mulai menemaniku di depan kelas. Pelajaran terhenti, seluruh mata tertuju pada kami berempat. Aku, Ucok, Kolip, dan Sukip ditatap dari kejauhan oleh Pak Mayos.

“Kalian lagi kalian lagi, memang saya harus lebih keras kepada kalian terutama kamu Ari!” telunjuknya mengarah ke wajahku.

Memang aku adalah salah satu dari seisi kelas yang sangat sering berurusan dengan Pak Mayos. Aku harus membersihkan 50 titik permen karet di lantai karena permen karet itu mengumpul di bawah bangkuku.

Aku juga harus menyiram seluruh bunga sambil berbicara bodoh kepada bunga-bunga.

Siang itu aku sengaja memetik sebuah bunga untuk diberikan kepada gadis pujaan, dialah gadis primadona di SMA-ku, matanya yang bening, rambutnya yang lurus berkilau, pakaiannya yang sangat bersih membuat semua lelaki ingin memetik bunga untuknya. Tetapi ceritanya bukan itu, ceritanya adalah ketika aku memetik bunga mawar yang sangat indah di depan kantor kepala sekolah. Aku sembunyikan bunga itu di balik pinggang dan mendekati Siti. Dengan mata berbinar-binar penuh harap aku menyodorkan bunga itu di depan wajah ayunya. Ia terdiam matanya menatap kosong ke arahku, titik fokusnya jatuh di belakang kepalaku. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun dan langsung pergi meninggalkanku. Bunga yang kupegang seperti mengejekku. Kemudian aku lempar bunga itu dan aku injak-injak di tanah. Aku malu dan marah kemudian berbalik dan menabrak Pak Mayos yang sudah dari tadi ada di belakang, tepat dibelakangku.

“Sial mengapa aku tidak tahu kalau waliku di belakang dan menyaksikan semuanya, aku akan berakhir hari ini,” gumamanku disertai dengan keringat dingin yang keluar dari dahi bagian kanan.

“Sudah puas? Sudah puas kamu menginjak  bunga kesayangan ibu kepala sekolah?” ia bertanya dengan dahi menciut.

Aku tidak mejawab dan tertunduk pasrah dilihat oleh puluhan anak-anak yang sedang beristirahat di taman.

“Ari kamu telah membuat kesalahan yang sangat fatal, sekarang kamu pergi ke waker pinjam alat penyiram bunga dan siram seluruh bunga yang ada di halaman ini selama 5 menit untuk satu bunga sambil meminta maaf dengan keras ke bunga itu, mengerti?” tanyanya dengan garang.

“Iya pak,”jawabku seadanya. Hari itu hari yang sangat berat. Masalah besarnya adalah satu bulan yang lalu seluruh kelas menyumbang bunga sesuai dengan jumlah siswa. Jadi menurut perhitungan setidaknya ada 800 bunga di seluruh taman sekolah. Untuk menyiram seluruh bunga aku harus menghabiskan waktu selama 4000 menit. Akhirnya aku harus menyiram bunga ke-799 pada pukul  16.00. dengan wajah lesu dan tenggorokan kering, aku mengembalikan alat penyiram bunga ke waker dan berpamitan kepada Pak Mayos yang dengan setia mengawasiku dari pagi. Ini semua gara-gara bunga.

“hei hei! Apa yang kamu pikirkan? Jawab!” Pak Mayos menanyaiku di depan kelas.

“Ti tidak ada pak,” jawabku seadanya berharap itu adalah pertanyaan terakhir.

“Kalian semua, tidak ada maaf lagi untuk kalian. Sepulang sekolah kalian tidak boleh pulang dan kalian harus mencari saya di ruang guru.” Kali ini suara Pak Mayos lebih datar dan tenang.

“Sudah kalian duduk,” tambahnya.

Semua teman bertanya-tanya mengapa Pak Mayos tidak mengeksekusi kami saat itu. Aku duduk di kursi dan mengeluarkan kentut kecil yang sudah aku tahan dari tadi. Suaranya nyaris tidak terdengar, aku kentut agak panjang kemudian semua temanku keluar dengan panik dan muntah.

Sepulang sekolah kami berempat datang ke ruang guru dan mencari Pak Mayos. Rupanya beliau sudah siap berdiri di depan meja kerjanya. Kami mendekatinya dengan menunduk sambil memegang kemaluan. Kami benar-benar pasrah menerima semua bencana yang akan menimpa hari ini.

“Maaf pak kami sudah selesai belajar,” Sukip memulai perbincangan.

“Saya sudah tahu, saya masih bisa liat,” jawab Pak Mayos dingin.

“Bapak akan menghukum kami?” kali ini bondan yang mencoba peruntungan.

“Pertanyaan konyol, sudah tahu salah masih bertanya seperti itu, berkali-kali saya katakan dengan jelas prinsip saya orang salah harus dihukum,” Pak Mayos kesal.

“Ikut saya!” tambah Pak Mayos

Kami diajak ke taman dan menuju ke tanah kosong di sebelah area taman kelas kami. Pak Mayos datang dari kejauhan dan membawa 15 kantong tanaman beserta alat untuk menanam. Dengan sedikit ngos-ngosan ia berkata,

“Mari kita buat taman untuk kita dan kita akan merawatnya  sampai kalian tamat dari sekolah kecil di kaki gunung ini,” kami benar-benar terkejut. Tak ada sedikit pun kemarahan di wajah Pak Mayos. Diterpa mentari sore, Pak Mayos tertunduk sambil menancapkan skop di atas rumput jepang. Kali ini wajahnya adalah seorang ayah yang mengajari kehidupan kepada anak-anaknya. Menanamkan kasih sayang di dalam jiwa kami.

Sore itu, ada matahari di mata Bondan dan Sukip.